
(Dok. KKS 2025)
Bikfom, Kairo— KKS Mesir kembali menggelar Panggung Bebas Ekspresi dalam rangka HUT ke-48 di Gedung Masrah Jalal Assyarqawi, Ramses, Kairo, pada Rabu 30 Juli 2025 kemarin.
Acara kali ini mengusung tema filosofis, “Mali Siparappe Tallang Sipahua”. Ini bukan sekadar susunan kata dari bahasa Bugis dan Makassar. Ia memuat makna mendalam yang mencerminkan nilai-nilai kekeluargaan, solidaritas, dan moralitas antara anggota di tanah perantauan.
Mali berarti hanyut, siparappe adalah saling menolong dari hanyut, sedangkan tallang berarti tenggelam dan sipahua adalah saling tolong-menolong ketika tenggelam.
Di tengah realitas Mahasiswa Indonesia yang ada di Mesir, makna ini menjadi relevan dan menyentuh.
“Kalimat ini bisa dimaknai sebagai ajakan untuk saling menolong dan menjaga solidaritas serta moralitas antar anggota KKS,” jelas Ariadi Lutfi, Ketua Panitia HUT ke-48 KKS Mesir dalam sambutannya.
Panggung Kebudayaan: 36 Penampil, 8 Aksi Penuh Makna
Panggung Bebas Ekspresi tahun ini menghadirkan total 8 penampilan seni budaya, melibatkan 36 personil penampil, diorganisasi oleh 97 panitia yang telah mempersiapkan acara ini selama lebih dari dua bulan.
Salah satu penampilan yang menjadi magnet utama adalah debut Tari Maccule Bombang, yang dibawakan oleh lima penari. Tarian ini berasal dari daerah Barru, Sulawesi Selatan, dan menyiratkan kehidupan masyarakat pesisir yang erat dengan laut, ombak, dan ritme maritim.
Selain penampilan baru tersebut, acara ini juga menyuguhkan penampilan seni yang telah menjadi ikon dalam Panggung Bebas Ekspresi KKS:
– Angngaru’, teriakan penuh semangat sebagai simbol keberanian. Di daerah Bugis Makassar biasanya ini menjadi pembuka pada saat acara-acara formal.
-Penampilan Grand Opening, yang menampilkan personil tari dari beragam etnis yang ada di Indonesia Timur .
-Funky Papua, aksi tari modern bernuansa Indonesia Timur.
-Rampak Bedug, harmonisasi ritme pukulan yang menggema diiringi lantunan nasyid.
-Puisi reflektif, yang menyentuh sisi emosional penonton.
-Tari Lita’na, tarian khas Mandar dengan tiga penari anggun.
-Serta penampilan musik band yang menambah kemeriahan acara.
Sorak-sorai dan tepuk tangan membahana di seluruh penjuru teater. Setiap penampilan bukan hanya hiburan, tetapi juga ekspresi jati diri, kerinduan akan tanah air, serta menjaga dan memperkuat eksistensi budaya Indonesia Timur di Bumi Kinanah.
Di Balik Layar: Perjuangan, Mood Naik-Turun, dan Pengorbanan Pribadi
Tak sedikit tantangan yang dihadapi oleh panitia dan para penampil. Menurut Ariadi Lutfi, kendala terbesar bukan pada teknis atau logistik, tapi pada fluktuasi semangat (mood) para anggota. Namun, semangat kolektif yang tumbuh di antara mereka menjadi fondasi yang kuat.
“Banyak kegiatan pribadi yang harus dikorbankan oleh panitia dan penampil. Tapi itu semua mereka lakukan dengan semangat dan antusias tinggi demi suksesnya acara ini,” ujar Lutfi dengan penuh apresiasi dalam wawancara bersama kru Bifkom.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para sponsor dan donatur yang turut mendukung acara ini. Sumbangsih mereka menjadi penggerak penting dalam suksesnya pelaksanaan HUT ke-48 ini.
Kebijaksanaan, Ketangguhan, dan Nilai Budaya
Muhammad Fadly Syah, selaku Punggawa KKS Mesir, memberikan refleksi mendalam tentang usia ke-48 ini.
“Usia 48 tahun adalah isyarat bahwa organisasi tercinta kita telah mencapai kedewasaan, kebijaksanaan, dan ketangguhannya dalam menghadapi tantangan zaman,” ungkapnya dalam sambutan.
“Kini KKS terus mengambil peran dalam tanggung jawab sosial bagi sesama anggota dan komunitas Masisir secara umum”.
Presiden PPMI Mesir, Razi Alif Al-Faiz, turut menyemangati lewat metafora pelaut yang biasa digunakan di suku bugis.
“KKS Mesir telah berlayar selama 48 tahun. Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke Pantai. Teruslah berkontribusi dalam dinamika sosial,” katanya.
Sementara itu, Dr. Lutfi Rauf, Duta Besar RI untuk Mesir, menyampaikan pesan kebudayaan yang menggugah dalam bahasa Bugis pada saat memberi sambutan.
“Padaidi Padaelo Sipatua Sipatokkong Mali Sipakainge. Jika hanyut, saling menolong. Jika tumbang, saling menegakkan. Jika lupa, saling mengingatkan,” ungkapnya.
“Nilai-nilai ini tidak lekang dalam budaya Sulawesi. Dan saya yakin, ini juga hidup dalam budaya Indonesia secara umum,” lanjutnya.
Dr. Lutfi Rauf pun menyampaikan bahwa ini mungkin menjadi HUT KKS terakhir yang ia hadiri sebagai Dubes, setelah lebih dari empat tahun mengabdi.
Selain Dubes dan Presiden PPMI Mesir beserta jajarannya, acara ini juga turut dihadiri oleh Atase pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kairo, para Gubernur Kekeluargaan Nusantara, dan kurang lebih 400 orang lainnya sebagai peserta yang menikmati suguhan budaya Indonesia Timur.
Sorotan mata yang berbinar, gelak tawa yang pecah, dan semangat yang menyatu menjadi tanda bahwa KKS bukan sekadar organisasi, tapi ia adalah rumah yang hidup.