
(Dok. KKS Mesir 2025)
Bifkom, Kairo— Keputrian KKS Mesir berkolaborasi dengan BO Takaful dan Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran menghadirkan seminar dua perspektif sekaligus, medis dan syariah.
Seminar ini digelar di Baruga KKS Mesir, Al Asherah, Nasr City, Kairo, Sabtu (9/08/2025).
Program ini diinisiasi oleh Divisi Keilmuan dan Pemberdayaan Anggoti Keputrian KKS Mesir.
Untuk pertama kalinya, kegiatan ini menghadirkan dua pembicara lintas disiplin yaitu Ustadzah Muthiah Fairuzi, Lc. untuk perspektif syariah, dan dr. Inge Mauledena, MBBCH. Untuk perspektif Medis. Keduanya membahas satu topik yang jarang dibahas terbuka — darah perempuan.
Kegiatan ini berangkat dari kebutuhan untuk memahami isu-isu perempuan. Khususnya, darah haid secara menyeluruh, baik dari sisi syariah maupun medis.
Antusiasme yang Melampaui Kuota
Ketua Keputrian, Azisa Amal, masih terkesan dengan antusiasme peserta ketika diwawancarai oleh Bifkom.
“Pendaftaran kami buka jam 10 pagi, tutup jam 5 sore. Tapi belum sampai sore, kuota sudah penuh. Bahkan banyak yang masih mau daftar. Ini menunjukkan program seperti ini sangat dibutuhkan dan diminati” katanya.
Begitu sesi dimulai, rasa penasaran para peserta benar-benar tampak. Setiap pemateri memaparkan fakta baru seperti pentingnya mencatat siklus haid atau membedakan darah haid dengan isthihadah, ruangan dipenuhi gumaman “ohh…” seolah semua potongan puzzle baru saja menemukan tempatnya.
Perjalanan Panjang Menuju Satu Hari
Menurut Ketua Panitia, Sofia Najihah, acara ini awalnya dirancang untuk tujuh hari yaitu sehari seminar medis dan enam hari daurah syariah menggunakan kitab Ibanah wal Ifadhah. Namun, jadwal ujian yang saling bertabrakan membuat semua pihak sepakat memangkasnya menjadi satu hari saja.
“Pemateri kami luar biasa. Ustadzah Muthiah biasanya membawakan materi ini enam hari penuh, tapi beliau berhasil merangkumnya jadi dua jam tanpa mengorbankan inti,” ujarnya.
Persiapan sebenarnya sudah dimulai sejak Mei. Panitia yang berjumlah 29 orang bahu-membahu memastikan 80 peserta dan 22 delegasi bisa mengikuti acara dengan nyaman.
Menggabungkan Dua Dunia
Bagi Muhammad Fadly Syah, Punggawa KKS Mesir, acara ini bukan sekadar program tahunan.
“Kesehatan perempuan sering dianggap isu biasa, padahal kompleks. Kalau dibahas dari medis saja mungkin kurang lengkap, dari syariah saja pun begitu. Digabungkan, hasilnya luar biasa,” jelasnya.
Punggawa KKS Mesir berharap akan ada tindak lanjut berupa kajian tematik mendalam atau sesi konsultasi khusus. “Sayang kalau berhenti di sini,” sambungnya.
Lebih dari Sekadar Acara
Ketua Keputrian sendiri sudah membayangkan pengembangan program ini, kajian berseri, kolaborasi dengan bidang lain, bahkan kampanye edukasi visual di media sosial.
“Tujuannya bukan Cuma tahu, tapi paham, sehat, dan syar’I dalam menjalani kehidupan,” katanya.
Di akhir sesi, Ustadzah Muthiah menyampaikan pesan agar para peserta tidak berhenti belajar. Harapannya, ilmu yang didapat hari itu menjadi awal perjalanan panjang memahami dan mengamalkan pengetahuan tentang kesehatan dan fikih perempuan.
Dengan keberhasilan edisi perdana format gabungan ini, program Keputrian KKS Mesir 2025 tidak hanya menjadi ajang pembelajaran, tetapi juga membuka jalan bagi terobosan kegiatan serupa di masa mendatang.