
Bayangkan ada sebuah lembaga pendidikan yang telah berdiri lebih dari seribu tahun. Dia Tumbuh dan menyaksikan perubahan-perubahan besar yang terjadi di dunia. Pemerintahan dinasti sudah berganti-ganti tapi dia masih tetap berdiri. Dialah yang hari ini kita kenal dengan nama Al-Azhar.
Al-Azhar bukan sekadar universitas, tetapi warisan sejarah keilmuan yang masih eksis. Tahun lahirnya sudah lama sekali, yaitu pada tahun 970 M. Sedikit gambaran, coba ingat kembali pelajaran sejarah tentang Kerajaan Majapahit. Kita mengira kalau Majapahit itu adalah sejarah Indonesia yang amat kuno dan sudah jauh sekali di masa lalu. Tapi ternyata, kalau Kerajaan Majapahit itu pertama kali berdiri di tahun 1292.
Artinya, Al-Azhar di Mesir 322 tahun lebih tua daripada Kerajaan Majapahit di Indonesia.
Akan tetapi, Majapahit telah lama mati dan Al-Azhar masih tetap eksis sampai sekarang ini. Dengan sejarah yang begitu panjang, Al-Azhar adalah satu-satunya yang pantas menjadi kiblat keilmuan Islam di dunia ini.
Selamat untuk kamu yang mendapat anugerah menimba ilmu di universitas paling “sepuh” di bumi. Umurnya sudah 1.055 tahun, Bro!
Lebih dari itu, mungkin kamu masih punya pertanyaan, seperti “Sebesar apakah pengaruh Al-Azhar? Bagaimanakah sejarahnya? Kenapa bisa jadi kampus Islam paling berpengaruh di dunia?” Tenang, mari ngobrol santai soal ini.
Berawal dari Dinasti Fatimiyah
Al-Azhar bukan sekadar kampus, tapi juga bagian dari sejarah panjang peradaban Islam. Kampus ini lahir di bawah Dinasti Fatimiyah sebagai pusat pendidikan dan dakwah Syiah Ismailiyah. Masjid Al-Azhar menjadi tempat belajar utama bagi para ulama dan cendekiawan saat itu.
Namun, di abad ke-12, Salahuddin Al-Ayyubi datang dan mengambil alih Mesir. Salahuddin lalu mendirikan Dinasti Ayyubiyah dan mengubah arah Al-Azhar dari doktrin Syiah. Perlahan tapi pasti, arah Al-Azhar berubah. Dari pusat kajian Syiah, ia bertransformasi menjadi pusat keilmuan Sunni. Mazhab Syafi’i mulai dominan, dan sejak saat itu, Al-Azhar berkembang menjadi rujukan ilmu Islam global.
Dari Masjid ke Kampus Kelas Dunia
Awalnya, sistem pembelajaran di Al-Azhar mirip dengan pesantren, berbasis halaqah di dalam masjid. Ulama besar mengajar murid-murid mereka secara langsung. Metode ini masih dipertahankan hingga sekarang, tapi Al-Azhar juga telah mengadopsi sistem universitas modern dengan kurikulum terstruktur dan berbagai fakultas.
Dengan kata lain, sistem pendidikan di Al-Azhar berkembang seiring zaman. Mulai dari majelis ilmu sederhana di masjid, hingga mempunyai perguruan tinggi yang bergengsi.
Nantinya, kamu akan sering mendengar istilah “Al-Azhar; Jami’ wal Jami’ah”. Maksudnya, Al-Azhar itu menggabungkan pembelajaran tradisional di masjid (jami’), dan perkuliahan modern di universitas (jami’ah).
Uniknya, mahasiswa bisa memilih belajar secara formal di kelas atau tetap menggunakan metode klasik dengan berguru langsung kepada syekh. Jadi, sistem di Al-Azhar memberi keleluasaan untuk mencari ilmu sesuai preferensi masing-masing.
Tokoh-Tokoh Besar Lulusan Al-Azhar
Jangan salah, lulusan Al-Azhar bukan cuma ulama! Kalau yang jadi ulama itu tidak perlu dipertanyakan saking banyak dan populernya. Seperti Imam As-Suyuthi, Ibnu Khaldun, Muhammad Abduh, dan ulama terkemuka lainnya.
Di samping itu, banyak tokoh dunia yang pernah mengenyam pendidikan di sini. Bahkan, banyak pemimpin negara di dunia Islam yang merupakan alumni Al-Azhar. Nama-nama seperti Gus Dur dari Indonesia, Abdelilah Bekirane dari Maroko, dan Ismail Al-Azhari, pernah mengecap lautan ilmu di Al-Azhar.
Ini menunjukkan bahwa kampus ini bukan hanya mencetak ahli agama, tapi juga pemikir, ekonom, dan politisi yang berpengaruh.
Al-Azhar di Era Modern
Seiring perkembangan zaman, Al-Azhar juga terus beradaptasi. Saat ini, kampus ini memiliki berbagai fakultas di luar zona keilmuan Islam, termasuk teknik, kedokteran, ekonomi, dan lainnya. Mahasiswa tidak hanya belajar ilmu agama, tapi juga ilmu eksakta dan sosial dalam lingkungan yang tetap kental dengan nilai-nilai Islam.
Selain itu, akses pendidikan di Al-Azhar kini lebih luas. Kampus ini membuka kesempatan besar bagi mahasiswi dengan adanya fakultas khusus perempuan. Ini membuktikan bahwa Al-Azhar terus berkembang dan tetap relevan di era modern.
Lantas, Kenapa Al-Azhar Tetap Istimewa?
Dengan sejarah lebih dari seribu tahun, Al-Azhar tetap menjadi salah satu pusat ilmu Islam terbesar di dunia. Tradisi keilmuan yang kuat berpadu dengan sistem pendidikan yang terus berkembang membuat kampus ini tetap menjadi rujukan utama.
Banyak universitas Islam lain bermunculan, tapi Al-Azhar selalu punya daya tariknya sendiri. Bisa jadi karena atmosfer akademik yang unik, menggabungkan tradisi klasik dan modern, atau mungkin juga karena alumninya yang tersebar di seluruh dunia, membawa ilmu dan nilai-nilai Islam yang kuat.
Tapi, dari semua itu, satu hal yang yang paling layak menjadi ciri khas Al-Azhar yang paling keren adalah manhaj Washatiyah. Apa maksudnya? Nanti kita bahas di tulisan selanjutnya.
Jadi, buat kalian mahasiswa baru, selamat bergabung di kampus legendaris ini. Kalian bukan hanya jadi bagian dari sejarah, tapi juga punya kesempatan untuk ikut membangun masa depan peradaban Islam!