
Bifkom, Kairo— Ahmad Nabil Murtadha, hafiz asal Makassar, Sulawesi Selatan, menjadi juara terbaik I dalam Musabaqah Hifdzil Qur’an Wafidin kategori 5 juz .
Ini digelar di Idarah Wafidin Buust, Kairo, Mesir dari 9 hingga 25 Maret 2024.
Lomba ini diadakan oleh International Students of the Holy Quran dan mempertemukan para penghafal Al-Qur’an dari berbagai negara, dengan dewan juri dari kalangan masyayikh kibar Al-Azhar.
Sebagai alumni PPTQ Nahdlatul Qurra’ Wal Huffadz, Ahmad mengungkapkan bahwa motivasinya mengikuti lomba ini adalah untuk membangkitkan semangat murajaah serta mengukur sejauh mana hafalannya tetap terjaga.
“Motivasi utama saya adalah membangkitkan kembali semangat murajaah. Dengan mengikuti lomba, kita bisa mengetahui tingkat kelancaran hafalan kita,” ujarnya.
Dukungan keluarga, terutama orang tua, menjadi faktor penting dalam perjalanannya.
“Hampir setiap hari orang tua saya bertanya, ‘Gimana hafalanmu, Nak? Apapun yang kau kerjakan, jangan lupa bahwa Al-Qur’an yang kau jaga itulah yang menemani setiap langkahmu.’ Dukungan itu yang selalu menguatkan saya,” tuturnya.
Menghadapi kompetisi tingkat internasional, Ahmad merasakan perasaan campur aduk.
“Ada rasa senang bisa ikut lomba, tapi juga takut tidak bisa menjadi yang terbaik. Namun sejak awal, niat saya bukan untuk menang, melainkan untuk memotivasi diri dalam murajaah dan mendapatkan pengalaman. Kenangan pernah ikut kompetisi seperti ini tidak akan bisa tergantikan,” katanya.
Lomba ini terdiri dari empat tahap, yaitu seleksi delegasi Indonesia, penyisihan, semifinal, dan final.
Ahmad mengaku bahwa atmosfer kompetisi ini sangat berkesan baginya.
“Suasananya benar-benar luar biasa. Dikelilingi oleh para ahlul Qur’an dari berbagai negara dan dinilai langsung oleh para masyayikh Al-Azhar adalah pengalaman yang belum pernah saya rasakan sebelumnya,” ungkapnya.
Ahmad juga berpesan agar para penghafal Al-Qur’an tidak ragu untuk mencoba tantangan baru.
“Terkadang seseorang tidak ikut lomba bukan karena tidak bisa, tetapi karena takut mencoba. Padahal, mereka yang berani mencoba akan mendapatkan lebih banyak pengalaman daripada yang tidak mencoba sama sekali,” ujarnya.
Menurutnya, prioritas utama seorang hafiz adalah menjaga hafalan Al-Qur’an.
“Jangan menunggu waktu luang untuk murajaah, tetapi luangkanlah waktu untuk murajaah. Karena sejatinya, langit masih ada langit di atasnya. Kita mungkin merasa sudah baik, tetapi masih banyak yang lebih baik dari kita,” pungkasnya.
Keikutsertaan Ahmad dalam Musabaqah Hifdzil Qur’an Wafidin ini menjadi pengalaman berharga baginya, sekaligus inspirasi bagi para penghafal Al-Qur’an lainnya untuk terus menjaga dan meningkatkan hafalannya.