Ada seseorang yang terlihat baik-baik saja, ia menjalankan aktivitas, berinteraksi, bahkan tersenyum…. Yah, pokoknya dia terlihat normal. Namun, di balik itu, bisa jadi ia menyimpan kegelisahan yang tidak mudah ia ungkapkan.
Nah, kondisi semacam ini menunjukkan bahwa kesehatan manusia tidak cukup diukur dari keadaan fisiknya. Ada aspek lain yang tidak kalah penting, yakni kesehatan mental.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kesehatan mental sebagai kondisi kesejahteraan yang memungkinkan seseorang menghadapi tekanan hidup, menyadari kemampuannya, belajar dan bekerja dengan baik, serta berkontribusi kepada komunitasnya.
Dengan demikian, kesehatan mental bukan sekadar keadaan ketika seseorang terbebas dari gangguan kejiwaan. Lebih dari itu, kesehatan mental berkaitan dengan bagaimana seseorang mengenali dirinya, mengelola emosi, menghadapi persoalan, dan menjalani kehidupan.
Salah satu aspek penting dalam memahami kesehatan mental adalah mengenali konsep diri. Dalam teori Carl Rogers, konsep diri merupakan gambaran dan keyakinan seseorang mengenai identitas, kemampuan, serta nilai dirinya.
Rogers memperkenalkan dua konsep utama, yaitu real self dan ideal self. Real self menggambarkan keadaan diri seseorang sebagaimana adanya, sedangkan ideal self merupakan gambaran diri yang ingin dicapai.
Keduanya tidak selalu berada dalam keadaan yang selaras. Seseorang mungkin memiliki harapan yang tinggi terhadap dirinya, tetapi kenyataan yang dihadapi belum sesuai dengan ekspektasi tersebut.
Dalam teori ini, keselarasan antara real self dan ideal self disebut congruence. Sebaliknya, kesenjangan yang terlalu jauh dapat menimbulkan incongruence, yang berkaitan dengan kecemasan dan tekanan psikologis.
Oleh karena itu, mengenali diri bukan berarti berhenti memiliki cita-cita. Justru, seseorang perlu memahami keadaan dirinya agar mampu menetapkan harapan yang realistis tanpa terus-menerus menyalahkan diri sendiri.
Pembahasan mengenai kesehatan jiwa bukanlah sesuatu yang asing dalam tradisi keilmuan Islam. Jauh sebelum perkembangan psikologi modern, sejumlah cendekiawan Muslim telah memberikan perhatian terhadap hubungan antara kondisi jiwa dan kesehatan fisik.
Salah satunya adalah Abu Zayd Ahmad ibn Sahl al-Balkhi melalui karyanya, Masalih al-Abdan wa al-Anfus. Dalam pemikirannya, kesehatan jiwa memiliki keterkaitan erat dengan kesehatan fisik dan spiritual. Gangguan pada jiwa dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam menikmati kehidupan.
Selain itu, Islam mengenal tingkatan nafs yang menggambarkan keadaan jiwa manusia, yaitu nafs al-ammarah bis-su’, nafs al-lawwamah, dan nafs al-muthmainnah.
Ketiga tingkatan tersebut memberikan gambaran mengenai dinamika jiwa manusia, mulai dari dorongan kepada keburukan, kesadaran untuk menyesali kesalahan, hingga keadaan jiwa yang tenang.
Perspektif ini memperlihatkan bahwa pembahasan mengenai jiwa dalam Islam tidak hanya berkaitan dengan perilaku lahiriah, tetapi juga menyentuh keadaan batin manusia.
Tidak semua persoalan kesehatan mental muncul tanpa sebab. Ada berbagai faktor yang dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang. Secara umum, faktor tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga.
Pertama, faktor biologis, seperti genetik, kondisi kimiawi otak, penyakit tertentu, dan penyalahgunaan NAPZA.
Kedua, faktor psikologis, yang mencakup pengalaman traumatis, pola asuh, serta kesiapan mental seseorang dalam menghadapi dinamika kehidupan.
Ketiga, faktor sosial, seperti tekanan ekonomi, pekerjaan, isolasi sosial, kekerasan, diskriminasi, serta lingkungan keluarga dan pergaulan.
Pengaruh berbagai faktor tersebut dapat muncul dalam bentuk gejala yang berbeda-beda. Sebagian orang mengalami kesulitan mengendalikan emosi, kecemasan, ketakutan, atau perasaan putus asa. Sebagian lainnya mengalami gangguan tidur dan makan, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga kehilangan rasa percaya diri.
Dalam pemikiran Al-Balkhi, persoalan jiwa juga dikelompokkan ke dalam empat kategori, yakni kesedihan dan kecemasan (al-huzn wal jaz’), obsesi (al-waswas), kemarahan (gadab), serta ketakutan dan fobia (al-khauf wa al-faz’). Mengenali berbagai gejala tersebut merupakan langkah awal untuk memahami bahwa persoalan kesehatan mental tidak selalu tampak secara kasatmata. Salah satu langkah awal adalah memvalidasi perasaan. Kesedihan, ketakutan, dan kekecewaan merupakan bagian dari pengalaman manusia yang tidak seharusnya selalu disangkal atau dihakimi. Bahkan, Rasulullah SAW pernah menunjukkan kesedihan ketika putra beliau, Ibrahim, wafat. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa kesedihan tidak bertentangan dengan keimanan.
Selain itu, terdapat sejumlah teknik yang dapat membantu seseorang menenangkan diri ketika menghadapi tekanan psikologis. Teknik pernapasan dan butterfly hug, misalnya, dapat digunakan sebagai bentuk relaksasi. Ada pula teknik grounding 5-4-3-2-1 yang membantu seseorang mengarahkan kembali perhatiannya kepada keadaan sekitar melalui pancaindra. Caranya dengan menyebutkan lima hal yang dapat dilihat, empat hal yang dapat disentuh, tiga hal yang dapat didengar, dua hal yang dapat dicium, dan satu sensasi yang dapat dirasakan melalui mulut.
Di samping itu, menjaga pola hidup sehat, melakukan aktivitas fisik secara teratur, serta membangun hubungan sosial yang positif juga menjadi bagian dari upaya merawat kesehatan mental.
Dalam perspektif Islam, upaya tersebut dapat disertai dengan pendekatan spiritual. Shalat yang dilakukan dengan khusyuk dapat menjadi sarana menenangkan hati. Demikian pula dzikir, yang dalam pemikiran Al-Ghazali memiliki tingkatan, mulai dari dzikir melalui lisan hingga dzikir yang telah menguasai hati.
Dengan demikian, merawat jiwa merupakan ikhtiar yang dapat melibatkan berbagai aspek kehidupan manusia.
Sekarang muncul pertanyaan baru, kapan seseorang membutuhkan bantuan profesional? Tidak semua persoalan kesehatan mental dapat diselesaikan dengan usaha sendiri. Ada kalanya seseorang membutuhkan pendampingan dari tenaga profesional, seperti psikolog atau psikiater.
Bantuan profesional perlu dipertimbangkan apabila perasaan sedih atau hampa berlangsung terus-menerus selama dua minggu atau lebih, aktivitas sehari-hari mulai terganggu secara signifikan, atau kondisi emosional semakin memburuk meskipun telah memperoleh dukungan dari orang terdekat. Terlebih apabila muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau mengakhiri hidup, pertolongan profesional perlu segera dicari.
Mencari bantuan bukanlah bentuk kegagalan dalam menghadapi kehidupan. Sebaliknya, hal tersebut merupakan salah satu bentuk kesadaran untuk menjaga diri.
Lingkungan tempat seseorang tumbuh dan berinteraksi turut memiliki peran dalam membentuk kondisi jiwanya. Keluarga, teman, dan masyarakat dapat menjadi bagian dari proses pemulihan melalui dukungan, kepedulian, dan kesediaan untuk mendengarkan.
Merawat jiwa adalah bagian dari ikhtiar menjaga manusia secara utuh. Kesehatan fisik, mental, sosial, dan spiritual merupakan aspek-aspek kehidupan yang patut diperhatikan.
Jadi penulis berpesan kepada diri sendiri dan juga pembaca bahwa tidak semua luka itu terlihat, tidak semua kesedihan dapat diungkapkan, dan tidak semua orang mampu menghadapi persoalannya seorang diri.