Jarak ribuan kilometer dari pelukan ibu pertiwi ternyata tak pernah cukup kuat untuk mendinginkan api persaudaraan. Menurut saya, Kerukunan Keluarga Sulawesi (KKS) di Mesir memiliki kebersamaan bagai sebuah napas, detak jantung, dan nyawa yang telah menghidupkan sebuah “rumah” selama hampir setengah abad.
Pada Jumat, 17 April 2026, ruang virtual Zoom mendadak penuh sesak oleh rindu. Sebanyak 162 pasang mata menyatu dalam Silaturrahmi Akbar untuk merayakan hari lahir KKS yang ke-49. Dari mahasiswa yang masih bergelut dengan kerasnya angin Kairo, hingga para alumni yang kini telah memetik kesuksesan di tanah air, semua melebur jadi satu. Layar digital yang dingin berubah menjadi hangat; jarak yang membentang seolah lipat dalam sekejap.
Momen ini merupakan perjalanan menyusuri lorong waktu, bukan sekadar acara seremoni biasa. Peserta diajak kembali menapaki jejak langkah awal KKS berdiri, melihat bagaimana organisasi ini bertransformasi tanpa sedikit pun kehilangan jati dirinya.
Para senior hadir membawa “oleh-oleh” kisah perjuangan, tentang bagaimana mereka tetap tegak di negeri orang dengan saling berpangku tangan. Tawa pecah saat nostalgia masa lalu menyeruak, mengingatkan semua orang bahwa kenangan indah di perantauan adalah harta yang tak akan usang dimakan zaman.
Di usianya yang hampir menyentuh kepala lima, KKS Mesir membuktikan bahwa ia bukan sekadar nama di atas kertas. Ia adalah “rumah” tempat pulang bagi para perantau yang rindu akan identitas. Semangat kekeluargaan ini terus mengalir, mendarah daging dari satu generasi ke generasi berikutnya, membisikkan janji bahwa sejauh apa pun kaki melangkah, mereka tak akan pernah benar-benar sendirian.

Kini, dengan pundak yang semakin kokoh, KKS Mesir menatap ufuk masa depan dengan binar optimisme. Perjalanan 49 tahun ini adalah pijakan sakral sebelum mereka menyongsong Tahun Emas ke-50.
Karena pada akhirnya, mereka akan tetap sama, “Tetap Satu Keluarga”. Sebuah janji yang akan terus bergema, melintasi gurun dan samudera, menyatukan hati di mana pun mereka berada.