
Anak rantau punya seribu cara untuk bertahan hidup meski jauh dari kampung. Malah bukan hanya bertahan hidup, anak rantau juga jago memutar otak untuk bisa memuaskan hasrat selera.
Buras adalah makanan khas Sulawesi yang erat dengan budaya. Kalau di kampung, buras selalu hadir di semua acara. Mau pernikahan, akikah, pengajian, lebih-lebih kalau lebaran.
Kalau ada pertanyaan apa makanan paling sakral yang harus ada di jamuan lebaran, jawaban yang paling pantas adalah buras. Sebungkus nasi ketan yang diikat rapat dalam balutan daun pisang. Banunya khas, rasanya lekat dengan kenangan lebaran dan acara keluarga.
Nah, ini masalahnya. Hampir mustahil untuk menemukan daun pisang di Mesir. Apalagi kalau butuh dalam jumlah banyak untuk membuat buras. Orang Mesir pasti tidak tahu kalau daun pisang bisa dimanfaatkan untuk membuat makanan super lezat seperti buras, jadi mereka hanya memanen pisangnya saja dan membuang daun-daunnya.
Tapi Anak Sulawesi di Mesir tidak mau menyerah. Makan buras di hari lebaran hukumnya wajib. Pokoknya harus ada buras yang bisa dikunyah ketika pulang Salat Ied. Tanpa daun pisang pun tidak masalah. Mengusahakan sesuatu walau tidak sempurna lebih baik daripada tidak berusaha sama sekali.
Kalau beras ketan sudah masak dan daun pisang belum juga ditemukan, maka terpilihlah aluminium foil sebagai penggantinya.
Daun Pisang yang Tergantikan
Iya, kertas aluminium foil yang biasanya cuma dipakai untuk membungkus sisa makanan, kali ini naik pangkat jadi penyelamat tradisi. Anak-anak Sulawesi di Mesir, yang perut sama lidahnya sudah takkala terbiasa dengan buras sejak kecil, tak kehabisan ide.
Dengan mengerahkan kapasitas akal, mereka meracik buras dengan cara yang tak pernah terpikirkan oleh para leluhur Bugis. Saya bahkan yakin kalau penemu buras dulu bakalan terpukau melihat karya eksperimen budaya di Negeri Kinanah.
Buras Aluminium yang dibahas dalam tulisan ini adalah buatan penghuni rumah Madrasah Annuriyah di Tajammu Awal, Kairo. Meskipun ada juga rumah atau komunitas lain seperti angkatan Uyun Musa KKS yang juga memasak buras lebaran kali ini.
Dalam proses pembuatannya, kita harus membahas soal pengalaman pertama menggulung beras dengan kertas aluminium foil yang kaku.Orang-orang yang baru pertama kali lihat, bisa jadi akan mengira kalau ini adalah buras futuristik dari tahun 2099.
Meski begitu, ada satu hal yang pasti: rasa rindu yang ditambah dengan kreativitas.
Bukan perkara mudah untuk menyesuaikan resep tradisional dengan keterbatasan bahan di negeri orang. Beras ketan masih mungkin untuk didapat, santan juga begitu (meski harganya jauh lebih mahal daripada di Indonesia). Tapi seni ngeburas tidak berhenti di situ, melainkan juga kombinasi sempurna dari cara memasak dan membungkusnya.
Alhasil, rumah Madrasah Annuriyah berhasil menghidangkan 14 kg aluminium yang dibuat gotong royong kurang lebih 10 orang.
Daun pisang dipilih oleh leluhur karena memberi aroma yang khas dan menjaga kelembaban buras. Tapi mau tidak mau, daun pisang harus digantikan dengan sesuatu yang lebih mudah ditemukan.
Kalau tentang rasa, Fadli sebagai salah seorang yang ikut membuat bilang, “Tentunya berbeda dengan buras daun pisang. Yang pakai daun pisang jelas lebih enak dibandingkan buras silver ini”.
Meski tidak seenak seperti bungkusan daun pisang, buras aluminium mampu menyelamatkan suasana lebaran anak rantau. Yang penting burasnya berhasil dikukus, rasa tetap familiar, dan nostalgia tetap terhidang di meja makanan perantau.
Buras Aluminium dan Makna Adaptasi
Proses adaptasi ini bukan sekedar tentang mengganti daun pisang menjadi aluminium foil. Tapi ini soal bagaimana manusia Sulawesi bisa tetap membawa rumah dalam bentuk makanan, meskipun rumah yang asli terletak belasan ribu kilometer jauhnya.
Walaupun masih terbilang jarak, tetapi sudah ada beberapa rumah anak KKS yang kerap membuat buras aluminium di momen lebaran tahun-tahun sebelumnya. Di tanah Nabi Musa ini, rasa antusias menang melawan bahan-bahan yang terbatas.
Meskipun wujudnya tak seperti buras yang selama ini kita ingat, tapi ia tetaplah masakan khas Bugis yang siap menemani lebaran di rantau.
Kelahiran buras aluminium ini bukan hanya soal makanan, tetapi juga tentang bertahan, dan beradaptasi.
Bahwa di manapun kita berada, kreativitas selalu bisa diandalkan dalam setiap keterbatasan. Sebab budaya bukan sesuatu yang harus dibuang atau ditinggalkan, tetapi tentang bagaimana ia terus dihidupkan.
Seperti kata Fadli, “Bikin buras di sini memang tidak gampang. Tapi tidak masalah untuk repot sekali dalam setahun, demi dapat vibes kampung halaman yang kita rindukan”.